Terapi Stem Cell dan Keberadaannya di Indonesia
http://medikanews.com/terapi-stem-cell-dan-keberadaannya-di-indonesia/
Terapi Stem Cell kini banyak digunakan dan dianggap sebagai penanganan mujarab untuk penyakit berat sekelas jantung, diabetes atau kanker. Seperti apa keberadaan cara pengobatan ini di Indonesia, simak ulasan MedikaNews.com berikut ini.
Ilustrasi Stem Cell
Adalah Laboraturium ReGenic (Regenerative and Cellular Therapy), ini merupakan laboraturium pertama di Indonesia yang mempunyai legalitas dalam pengolahan Sel Punca atau dengan nama lain stem cell untuk terapi. Di Indonesia, isu terapi stem cell memang sepertinya masih beredar di kalangan tertentu, selain perangkat dan teknologi yang terbatas, biaya untuk pengobatan ini juga cukup mahal.
Praktik terapi stem cell mulai dilakukan di Negeri Paman Sam sekitar tahun 2005. Sedangkan untuk Indonesia, disinyalir, pada tahun 2007 sudah dilaksanakan terapi stem cell pada penderita penyakit jantung di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Sedangkan sutradara Iqbail Rais yang divonis kanker darah pada tahun 2011, Iqbal juga menjadi pasien pertama yang melakukan terapi stem cell di Surabaya sekitar bulan September tahun 2011.
Menurut Yuyus Kusnadi, PhD, Head of Laboratory KALBE Group, praktik stem cell yang diijinkan di Indonesia adalah dengan mengambil material stem cell dari tubuh si pasien itu sendiri atau yang biasa disebut dengan istilah antologus. Untuk melakukan terapi stem cell, stem cell bisa diambil dari beberapa bagian tubuh kita sendiri, seperti sumsum tulang belakang, lemak, tali pusat, hingga darah.
“Proses pengambilan dan pengembangbiakkan stem cell bisa dikatakan cukup mudah. Dalam waktu beberapa minggu, sel akan berkembang biak menjadi berkali-kali lipat. Tapi, yang jadi masalah apakah sel yang telah berlipat ganda tersebut steril dan bisa digunakan untuk dimasukkan ke dalam tubuh manusia. Masalah kebersihan dan sterilisasi sel yang harus diperhatikan dan dijaga saat proses ini,” ujar Yuyus.
Di Indonesia, terapi stem cell dilakukan dengan mengambil material stem cell dari tubuh pasien sendiri. Di China, terapi ini diperbolehkan untuk mengambil materi stem cell dari janin bayi yang “sengaja” digugurkan oleh ibu mereka, mengingat memang pemerintah China membatasi keluarga untuk memiliki anak. Sedangkan di Jerman, praktik terapi stem cell mengambil material stem cell dari binatang.
Tentang terapi stem cell yang mengunakan bagian tubuh binatang Yuyus menjelaskan, biasanya hewan yang digunakan untuk diambil material stem cell-nya adalah kelinci, rusa atau domba, sedangkan di Autralia, hewan yang biasa digunakan adalah kangguru. Karena di Jerman memang pemerintah tidak mengijinkan praktik stem cell dengan mengambil material stem cell dari manusia.
Terapi Alternatif Stroke hingga Kecantikan
Yuyus juga mengakui bahwa terapi cell ini bermanfaat untuk berbagai jenis keluhan kesehatan, mulai dari penyakit sekelas stroke, cidera, hingga “sekadar” untuk menjaga penampilan agar awet muda. “Tidak bisa dipungkiri, setiap orang yang melakukan terapi stem cell pasti akan merasa lebih muda dan efek tersebut memang wajar. Karena pada dasarnya sifat stem cell adalah mengganti sel-sel tubuh yang rusak dengan demikian pasien yang melakukan stem cell akan mengalami regenerasi sel dengan masuknya stem cell,” ujar Yuyus.
Karena itulah, dalam penggunaannya, Yuyus menyarankan untuk memasukkan stem cell ke dalam tubuh dengan bantuan alat perantara agar stem cell bisa langsung sampai ke target yang dicapai. Apabila stem cell dimasukkan ke dalam tubuh dengan menggunakan metode infus (seperti transfusi darah biasa), dikhawatirkan stem cell justru tidak akan mencapai organ yang diinginkan. Pasalnya, saat stem cell masuk ke tubuh, maka stem cell akan mencari sel rusak terdekat yang bisa diperbaiki, dengan demikian, bukan tidak mungkin stem cell akan habis sebelum sampai di organ yang dituju.
Saat ini, terapi stem cell sepertinya mulai dipublikasi dan juga dipromosikan ke masyarakat. Bukan hanya dalam urusan medis, di Indonesia, khususnya Jakarta, sudah muncul klinik-klinik kecantikan yang menawarkan jasa terapi stem cell pada pasien mereka. Bahkan, menurut kabar yang berkembang, sebuah klinik kecantikan ternama asal Jerman berencana untuk membuka cabang di Jakarta.
11 Rumah Sakit yang Menerapkan Stem Cell
Indonesia sendiri masih terbatas pada skala penelitian. Saat ini, hanya 11 rumah sakit di Indonesia yang menjadi pusat pengembangan pelayanan medis penelitian dan pendidikan bank-jaringan dan sel punca atau stem cell.
Sebelas rumah sakit tersebut diantaranya adalah Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Dr. Soetomo sebagai pembina. Kemudian, berikutnya adalah RS Dr. M. Djamil, Padang, Sumatera Barat, RS Jantung Harapan Kita, Jakarta, RS Fatmawati, RS Kanker Dharmais, RS Persahabatan, RS Dr. Hasan Sadikin, Bandung, RS Dr. Sardjito, Yogyakarta, RS Dr. Karyadi, Semarang, dan RS Sanglah, Bali.
Sejauh ini terapi sel di Indonesia telah diterapkan pada penderita penyakit jantung dan radang sendi. Di Indonesia sendiri sudah ada 30 orang yang menjalani terapi stem cell untuk jantung maupun sendi lutut. Hasil medisnya pun membaik. Contohnya, di lutut yang rusak tulang rawan. Jadi stem cell akan menumbuhkan kembali tulang rawan. Lutut kembali bisa digerakkan, bisa berjalan. Begitu juga dengan jantung.
Dilain sisi minat terhadap terapi stem cell di Indonesia cukup tinggi meskipun harus merogoh kocek yang tak sedikit yakni mencapai ratusan juta rupiah. Berdasarkan penelitian selama ini, stem cells aman bagi tubuh. Bahkan, efek samping stem cells justru bisa berbuah manis untuk masalah penuaan atau memberikan efek antiaging.
Risiko stem cells juga semakin kecil jika menggunakan sel dalam tubuh manusia itu sendiri. Sebab, tidak ada penolakan oleh tubuh terhadap sel baru tersebut. Berbeda untuk sel dari orang lain yang bisa berkembang menjadi kanker. Untuk itu para dokter akan sangat berhati-hati dan memastikan sel tidak akan ditolak oleh tubuh dalam proses terapi stem cell.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sel Punca, Terapi yang Menjanjikan
KOMPAS.com - Sel punca adalah terapi baru dalam dunia medis. Meski masih dalam tahap penelitian dan belum jadi layanan standar, hasilnya cukup menggembirakan. Keberhasilan itu membuat para ahli yakin terapi sel punca akan jadi tren masa depan, menggantikan terapi konvensional dengan obat atau suntik.
Musa Asy'arie (64), Guru Besar Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, telah merasakan manfaat terapi sel punca. Sejak menderita diabetes melitus 10 tahun lalu, kadar gula darahnya selalu di atas normal. Berbagai pengobatan dilakukan, termasuk ke sebuah rumah sakit di Singapura. Namun, gula darahnya tetap tinggi.
Atas saran teman, ia mencoba terapi sel punca di RSUD dr Soetomo Surabaya, enam bulan lalu. Setelah tiga kali penyuntikan sel punca yang diambil dari sumsum tulang belakang, fungsi pankreasnya naik dari 30 persen jadi hampir 100 persen. Kadar gula darahnya turun mendekati normal. Jumlah dan dosis obat yang diminum pun berkurang.
"Sekarang diabetes tak menakutkan lagi. Selain tubuh lebih ringan, saya bisa melakukan berbagai aktivitas yang berguna bagi orang lain," ujarnya.
Manfaat serupa dituturkan Andi Muhammad Ardan (32), mahasiswa semester 10 program dokter spesialis bedah plastik di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair). Pada 2013, ia dinyatakan mengalami sirosis hati level lanjut, 75 persen hatinya jadi jaringan ikat.
Akibatnya, berat badannya turun drastis. Kemampuannya mengoperasi hanya 2-3 jam, padahal tuntutan profesi mengharuskan ia harus bisa mengoperasi 7-8 jam. Itu sempat membuatnya putus asa dan berniat mundur dari pendidikan. Apalagi, sirosis tahap lanjut belum ada obatnya dan berpeluang jadi karsinoma atau kanker.
Atas saran rekan seprofesi, ia ikut terapi sel punca di almamaternya. Setelah disuntik sel punca dari jaringan lemak di perutnya tiga kali selama tiga bulan, berat badannya naik 17 kilogram. Nilai serum glutamic oxaloacetic transaminase dan serum glutamic pyruvate transaminase sebagai indikator kesehatan hati juga normal. "Operasi 12-14 jam pun tak masalah," tuturnya.
Ada pula Rio Gunawan (32), karyawan bank swasta asing di Jakarta, yang patah tulang paha pada 2009. Berbagai terapi dijalani, mulai pasang pen, delayed union atau penyambungan tulang yang tertunda pada 2010, dan bone graft atau cangkok tulang pada 2011. Semua tak memberi hasil memuaskan.
Lalu, ia disarankan melakukan nailing atau pemasangan sejenis pelat atau paku pada tulang patah. Namun, metode itu berisiko jika kondisi tulangnya tak mendukung. Lalu, ia dianjurkan menjalani terapi sel punca di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.
Meski sempat ragu karena terapi itu baru di Indonesia, ia berani mencoba setelah tahu ada aturan Menteri Kesehatan yang mengatur terapi sel punca. Terapi dilakukan dengan mengambil sel punca dari sumsum tulang belakangnya. Hasilnya, "Dulu saya harus jalan memakai kruk (tongkat). Kini, saya bisa jalan tanpa kruk sambil menggendong anak," ujarnya.
Penyakit degeneratif
Terapi sel punca mulai dikembangkan di dunia pada 1996 dan di Indonesia pada 2007. Terapi dilakukan dengan menyuntikkan sel punca ke pasien untuk memperbaiki organ atau jaringan tubuh yang rusak.
Sel punca bisa diambil dari embrio, darah tali pusat bayi baru lahir dan dari orang dewasa. Sel punca embrio belum dikembangkan di Indonesia karena etikanya diperdebatkan. Sel punca dewasa bisa diambil dari tubuh pasien sendiri (autologous) atau orang lain (allogenic).
"Sel punca dari embrio dan darah tali pusat potensinya amat besar, tetapi risiko tumbuh ke arah keganasan besar," kata Andri Lubis, Kepala Bagian Penelitian RSCM yang juga pengembang terapi sel punca tulang rawan. Tingkat penolakan sel punca yang diambil dari tubuh pasien jauh lebih kecil daripada diambil dari orang lain.
Sel punca bisa untuk terapi penyakit degeneratif atau terkait penurunan fungsi tubuh, mutasi dan keganasan sel. Beberapa penyakit yang bisa diterapi adalah jantung koroner, pelemahan pompa jantung, diabetes melitus, stroke, parkinson, kanker, dan gangguan tulang.
"Semua penderita penyakit degeneratif bisa diterapi dengan sel punca, tak ada batasan usia," kata Sekretaris Pusat Kedokteran Regeneratif dan Sel Punca Surabaya yang juga dokter penyakit dalam pengembang sel punca RSUD dr Soetomo Purwati. Pemeriksaan oleh dokter menentukan bisa tidaknya seseorang diterapi sel punca.
Karena masih tahap riset di seluruh dunia, terapi sel punca belum jadi layanan standar. Banyak aspek terapi perlu dioptimalkan dan diteliti sebelum diterapkan pada layanan rutin. Akibatnya, biaya terapi belum ditanggung asuransi kesehatan. Namun, biaya terapi di Indonesia jauh lebih murah dibanding di Tiongkok, apalagi di Eropa. Bahkan, sejumlah pasien bisa dibiayai dari dana riset.
Meski demikian, mutu terapi sel punca di Indonesia tak kalah dibandingkan negara lain. Dari 379 pasien yang diterapi di RSUD dr Soetomo, perbaikan pasien diabetes 30-100 persen dan nyeri sendi lutut 60-70 persen. Perbaikan pasien stroke 50 persen dan penyakit jantung 60- 80 persen. Hal serupa ditunjukkan peserta terapi di RSCM.
Meski menjanjikan, pasien perlu cermat menerima tawaran terapi sel punca. Di Indonesia, terapi baru dikembangkan di RSCM dan RSUD dr Soetomo. Klaim keberhasilan tanpa ditopang riset memadai perlu diwaspadai.
Sumber: http://sains.kompas.com/read/2015/11/04/15090771/Sel.Punca.Terapi.yang.Menjanjikan
Uji Coba Operasi Sel Punca Sembuhkan Pasien Buta
TEMPO.CO, Massachusetts - Pengobatan stem cell atau sel punca dinilai bisa menyembuhkan sejumlah penyakit, termasuk penyakit jantung dan Alzheimer. Kali ini, dokter Robert Lanza, kepala dari Advanced Cell Technology di Massachusetts, Amerika Serikat, berhasil menemukan kegunaan sel punca untuk kebutaan pada manusia.
Percobaan pengobatan sel punca dilakukan pada 18 pasien yang menderita dua jenis kebutaan, macular degeneration(kebutaan yang muncul pada manusia usia 60 tahun ke atas) dan Stargardt macular dystrophy (kebutaan yang muncul sejak lahir). Semua pasien akan diberikan transplantasi sel epitel retina (RPE) dari sel-sel punca dari hasil prosedur In Vitro Fertilization atau IVF (proses penyatuan sperma dan sel telur dalam tabung). (Baca: Bermanfaat, Terapi Stem Cell Masih Diperdebatkan)
Lanza dan timnya merancang proses pengobatan sel punca yang dapat berubah menjadi RPE. Pada pasien macular degeneration, sel RPE bertanggung jawab pada hilangnya penglihatan yang berfungsi untuk merasakan cahaya di retina yang sehat. Sementara itu, sel RPE pada Stargardt macular dystrophy menyebabkan hilangnya penglihatan secara bertahap.
Gabungan sel punca dengan RPE dimasukkan langsung ke dalam ruang depan retina mata yang paling rusak pada masing-masing pasien. Sel-sel RPE baru memang tidak bisa membentuk sel baru, tapi dapat membantu meningkatkan sel-sel RPE yang telah mati untuk memproses cahaya dan membantu pasien untuk melihat.
"Tujuan utama kali awalnya adalah mencegah kebutaan agar tak bertambah parah dan mencoba keamanan terapi, bukan untuk mengembalikan penglihatan. Namun, hasil yang ditemukan dari uji coba ini justru lebih baik, yaitu meningatkan penglihatan pada pasien buta," kata Lanza, seperti dilaporkanTime, Selasa, 14 Oktober 2014. (Baca: Manfaat Stem Cell untuk Sembuhkan Penyakit)
Ruang retina menjadi sasaran operasi ini karena di sanalah satu-satunya tempat di mana sel-sel kekebalan tubuh tidak bisa masuk. Meski begitu, untuk pencegahan, pasien tetap diberikan obat untuk menekan sistem kekebalan tubuh selama satu pekan untuk 12 pekan proses operasi.
"Setelah operasi, kami memantau semua aktivitas pasien selama tiga tahun penuh. Setengah dari mereka mampu membaca tiga baris pada grafik mata. Ada juga yang sudah bisa membaca jam dan menggunakan komputer," kata Lanza.
RINDU P. HESTYA | TIME
http://www.tempo.co/read/news/2014/10/15/061614507/Uji-Coba-Operasi-Sel-Punca-Sembuhkan-Pasien-Buta
Percobaan pengobatan sel punca dilakukan pada 18 pasien yang menderita dua jenis kebutaan, macular degeneration(kebutaan yang muncul pada manusia usia 60 tahun ke atas) dan Stargardt macular dystrophy (kebutaan yang muncul sejak lahir). Semua pasien akan diberikan transplantasi sel epitel retina (RPE) dari sel-sel punca dari hasil prosedur In Vitro Fertilization atau IVF (proses penyatuan sperma dan sel telur dalam tabung). (Baca: Bermanfaat, Terapi Stem Cell Masih Diperdebatkan)
Lanza dan timnya merancang proses pengobatan sel punca yang dapat berubah menjadi RPE. Pada pasien macular degeneration, sel RPE bertanggung jawab pada hilangnya penglihatan yang berfungsi untuk merasakan cahaya di retina yang sehat. Sementara itu, sel RPE pada Stargardt macular dystrophy menyebabkan hilangnya penglihatan secara bertahap.
Gabungan sel punca dengan RPE dimasukkan langsung ke dalam ruang depan retina mata yang paling rusak pada masing-masing pasien. Sel-sel RPE baru memang tidak bisa membentuk sel baru, tapi dapat membantu meningkatkan sel-sel RPE yang telah mati untuk memproses cahaya dan membantu pasien untuk melihat.
"Tujuan utama kali awalnya adalah mencegah kebutaan agar tak bertambah parah dan mencoba keamanan terapi, bukan untuk mengembalikan penglihatan. Namun, hasil yang ditemukan dari uji coba ini justru lebih baik, yaitu meningatkan penglihatan pada pasien buta," kata Lanza, seperti dilaporkanTime, Selasa, 14 Oktober 2014. (Baca: Manfaat Stem Cell untuk Sembuhkan Penyakit)
Ruang retina menjadi sasaran operasi ini karena di sanalah satu-satunya tempat di mana sel-sel kekebalan tubuh tidak bisa masuk. Meski begitu, untuk pencegahan, pasien tetap diberikan obat untuk menekan sistem kekebalan tubuh selama satu pekan untuk 12 pekan proses operasi.
"Setelah operasi, kami memantau semua aktivitas pasien selama tiga tahun penuh. Setengah dari mereka mampu membaca tiga baris pada grafik mata. Ada juga yang sudah bisa membaca jam dan menggunakan komputer," kata Lanza.
RINDU P. HESTYA | TIME
http://www.tempo.co/read/news/2014/10/15/061614507/Uji-Coba-Operasi-Sel-Punca-Sembuhkan-Pasien-Buta
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ini Risiko Terapi Stem Cell
Oleh dr Samsuridjal Djauzi
SAYA (62 ) penderita ginjal'>gagal ginjal kronik dan sudah tiga tahun ini menjalani cuci darah. Sejak 20 tahun lalu, saya menderita kencing manis. Menurut dokter, penyakit ginjal'>gagalginjal saya akibat komplikasi kencing manis. Dokter menganjurkan agar saya menjalani cangkok ginjal, tetapi saya masih ragu. Saya mencari terapi yang lebih kecil risikonya.
Apakah terapi stem cell untuk ginjal'>gagal ginjal dan kencingmanis sudah dapat dilakukan di Indonesia? Di negara manaterapi tersebut dapat dilakukan? Saya amat mendambakan terapiyang dapat menuntaskan penyakit kencing manis danginjal'>gagal ginjal. Apa saja risiko yang dapat terjadi?
Saya meragukan pendapat dokter saya karena menantu saya sewaktu melahirkan menyimpan darah dari plasenta sekitar tiga tahun yang lalu. Darah tersebut mengandung stem cell yang dapat digunakan jika nanti di masa depan anaknya menderita sakit. Bagaimana mungkin menyimpan darah stem cell jika tidak dapat digunakan. Mohon penjelasan dokter mengenai terapistem cell ini. Terima kasih.
K di J
Terapi stem cell (sel punca) merupakan terapi yang diharapkan memberi hasil sehingga penyakit yang selama ini belum dapat disembuhkan akan dapat diatasi. Di Asia, selain Jepang, Korea, Tiongkok, dan India, negara kita juga ingin memanfaatkan terapisel punca. Kementerian Kesehatan telah menugaskan rumah sakit pendidikan untuk melakukan penelitian dan pengembanganterapi sel punca. Namun, untuk dijadikan terapi yang digunakan secara luas, harus cukup bukti mengenai manfaatnya dan harus terjamin keamanannya.
Terapi sel punca yang sudah diakui adalah untuk keganasan darah (leukemia, limfoma malignum, dan lain-lain) serta kelainan darah, sedangkan untuk penyakit lain masih dalam penelitian. Terapi untuk mengatasi penyakit jantung (miokard infark) telah dilakukan pada ribuan pasien di sejumlah negara, tetapi para peneliti masih memerlukan waktu untuk menyimpulkan bahwaterapi tersebut memang bermanfaat.
Penelitian untuk kanker, kencing manis, stroke, alzheimer, dan kelainan retina mata banyak diteliti. Namun, belum dapat disimpulkan bahwa hasilnya baik. Jadi, jangan mudah tergoda dengan iklan dan janji yang belum dibuktikan secara ilmiah.
Proses terapi
Terapi sel punca melalui tiga proses. Pertama adalah penyediaansel punca. Kedua penyimpanan, serta ketiga penggunaan di klinik. Sumber sel punca dapat berasal dari pasien yang akan diobati atau dari orang lain. Jika berasal dari orang lain, apalagi berasal bukan dari manusia, kita menghadapi risiko penularanpenyakit. Perlu penyaringan yang teliti agar donor tidak menularkan penyakit kepada yang menerima sel punca. Selain itu, sel punca tersebut hendaknya tidak mempunyai kelainan genetik yang dalam jangka waktu lama baru akan bermanifestasi sebagai penyakit.
Pada proses kedua, yaitu penyimpanan, selain risiko tercemar jasad renik (bakteri, virus, parasit), juga harus menjamin sel punca tersebut hidup dan tumbuh dengan baik. Karena itulah, laboratorium yang mengambil dan menyimpan sel punca ini harus merupakan laboratorium yang diakui baik.
Bagaimana dengan sel punca yang diimpor dari luar negeri. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) mensyaratkan agar sel punca suntikan tersebut didaftarkan agar jelas sumber sel punca tersebut dan jelas laboratorium yang memprosesnya. Seperti juga obat, sel punca juga harus diketahui kandungan suntikan tersebut, mengandung berapa sel dan apakah sel puncanya masih hidup. Sepanjang pengetahuan saya, belum ada produk sel punca dari luar negeri yang telah didaftarkan di Badan POM kita.
Pada proses ketiga, yaitu penggunaan klinik, risiko yang dapat terjadi adalah penularan penyakit dan sel punca mungkin tidak bekerja. Pada stroke, misalnya, kita berharap sel punca akan mencapai bagian-bagian otak yang mengalami kerusakan. Jika sel punca diberikan secara infus, belum jelas berapa persen yang akan mencapai otak. Pada terapi sel punca untuk jantung, sel punca diberikan ke pembuluh darah koroner jantung melalui katerisasi. Adapun untuk terapi otot jantung, sel puncadisuntikkan dengan bantuan alat yang disebut NOGA.
Berobat ke luar negeri
Sangat dianjurkan pasien atau keluarga mencari informasi apakah klinik atau perusahaan obat yang memproduksi sel punca tersebut telah mendapat izin di negerinya. Apakah terapisel punca tersebut sudah resmi diizinkan untuk pelayanan publik. Acap kali iklan yang ada mengesankan bahwa terapi tersebut telah rutin dilakukan. Namun, kita harus teliti karena mungkin kebijakan negara setempat sebenarnya belum mengizinkanterapi sel punca untuk masyarakat luas.
Mengenai sel punca yang diambil dari plasenta dan disimpan dengan harapan akan digunakan kelak, sel punca tersebut dewasa ini akan dapat digunakan untuk mengatasi keganasan (kanker) hematologi dan kelainan hematologi lainnya. Di negeri kita, yang populer adalah penyimpanan sel punca oleh swasta. Sebenarnya, akan jauh lebih bermanfaat jika pemerintah mengadakan penyimpanan sel punca untuk masyarakat seperti halnya bank darah. Sel punca tersebut dapat digunakan bagi anak yang mengikuti program penyimpanan dan bagi anak lain yang memerlukan.
Saya setuju dengan dokter Anda, sudah saatnya Anda mempertimbangkan cangkok ginjal. Memang ada harapan di masa depan melalui rekayasa jaringan yang berbasis sel puncaakan terbentuk ginjal yang dapat mengambil alih fungsi ginjalAnda yang tidak berfungsi. Namun, sepanjang pengetahuan saya, penelitian ini baru sampai pada percobaan binatang. Jadi, penerapan pada manusia masih akan lama.
SAYA (62 ) penderita ginjal'>gagal ginjal kronik dan sudah tiga tahun ini menjalani cuci darah. Sejak 20 tahun lalu, saya menderita kencing manis. Menurut dokter, penyakit ginjal'>gagalginjal saya akibat komplikasi kencing manis. Dokter menganjurkan agar saya menjalani cangkok ginjal, tetapi saya masih ragu. Saya mencari terapi yang lebih kecil risikonya.
Apakah terapi stem cell untuk ginjal'>gagal ginjal dan kencingmanis sudah dapat dilakukan di Indonesia? Di negara manaterapi tersebut dapat dilakukan? Saya amat mendambakan terapiyang dapat menuntaskan penyakit kencing manis danginjal'>gagal ginjal. Apa saja risiko yang dapat terjadi?
Saya meragukan pendapat dokter saya karena menantu saya sewaktu melahirkan menyimpan darah dari plasenta sekitar tiga tahun yang lalu. Darah tersebut mengandung stem cell yang dapat digunakan jika nanti di masa depan anaknya menderita sakit. Bagaimana mungkin menyimpan darah stem cell jika tidak dapat digunakan. Mohon penjelasan dokter mengenai terapistem cell ini. Terima kasih.
K di J
Terapi stem cell (sel punca) merupakan terapi yang diharapkan memberi hasil sehingga penyakit yang selama ini belum dapat disembuhkan akan dapat diatasi. Di Asia, selain Jepang, Korea, Tiongkok, dan India, negara kita juga ingin memanfaatkan terapisel punca. Kementerian Kesehatan telah menugaskan rumah sakit pendidikan untuk melakukan penelitian dan pengembanganterapi sel punca. Namun, untuk dijadikan terapi yang digunakan secara luas, harus cukup bukti mengenai manfaatnya dan harus terjamin keamanannya.
Terapi sel punca yang sudah diakui adalah untuk keganasan darah (leukemia, limfoma malignum, dan lain-lain) serta kelainan darah, sedangkan untuk penyakit lain masih dalam penelitian. Terapi untuk mengatasi penyakit jantung (miokard infark) telah dilakukan pada ribuan pasien di sejumlah negara, tetapi para peneliti masih memerlukan waktu untuk menyimpulkan bahwaterapi tersebut memang bermanfaat.
Penelitian untuk kanker, kencing manis, stroke, alzheimer, dan kelainan retina mata banyak diteliti. Namun, belum dapat disimpulkan bahwa hasilnya baik. Jadi, jangan mudah tergoda dengan iklan dan janji yang belum dibuktikan secara ilmiah.
Proses terapi
Terapi sel punca melalui tiga proses. Pertama adalah penyediaansel punca. Kedua penyimpanan, serta ketiga penggunaan di klinik. Sumber sel punca dapat berasal dari pasien yang akan diobati atau dari orang lain. Jika berasal dari orang lain, apalagi berasal bukan dari manusia, kita menghadapi risiko penularanpenyakit. Perlu penyaringan yang teliti agar donor tidak menularkan penyakit kepada yang menerima sel punca. Selain itu, sel punca tersebut hendaknya tidak mempunyai kelainan genetik yang dalam jangka waktu lama baru akan bermanifestasi sebagai penyakit.
Pada proses kedua, yaitu penyimpanan, selain risiko tercemar jasad renik (bakteri, virus, parasit), juga harus menjamin sel punca tersebut hidup dan tumbuh dengan baik. Karena itulah, laboratorium yang mengambil dan menyimpan sel punca ini harus merupakan laboratorium yang diakui baik.
Bagaimana dengan sel punca yang diimpor dari luar negeri. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) mensyaratkan agar sel punca suntikan tersebut didaftarkan agar jelas sumber sel punca tersebut dan jelas laboratorium yang memprosesnya. Seperti juga obat, sel punca juga harus diketahui kandungan suntikan tersebut, mengandung berapa sel dan apakah sel puncanya masih hidup. Sepanjang pengetahuan saya, belum ada produk sel punca dari luar negeri yang telah didaftarkan di Badan POM kita.
Pada proses ketiga, yaitu penggunaan klinik, risiko yang dapat terjadi adalah penularan penyakit dan sel punca mungkin tidak bekerja. Pada stroke, misalnya, kita berharap sel punca akan mencapai bagian-bagian otak yang mengalami kerusakan. Jika sel punca diberikan secara infus, belum jelas berapa persen yang akan mencapai otak. Pada terapi sel punca untuk jantung, sel punca diberikan ke pembuluh darah koroner jantung melalui katerisasi. Adapun untuk terapi otot jantung, sel puncadisuntikkan dengan bantuan alat yang disebut NOGA.
Berobat ke luar negeri
Sangat dianjurkan pasien atau keluarga mencari informasi apakah klinik atau perusahaan obat yang memproduksi sel punca tersebut telah mendapat izin di negerinya. Apakah terapisel punca tersebut sudah resmi diizinkan untuk pelayanan publik. Acap kali iklan yang ada mengesankan bahwa terapi tersebut telah rutin dilakukan. Namun, kita harus teliti karena mungkin kebijakan negara setempat sebenarnya belum mengizinkanterapi sel punca untuk masyarakat luas.
Mengenai sel punca yang diambil dari plasenta dan disimpan dengan harapan akan digunakan kelak, sel punca tersebut dewasa ini akan dapat digunakan untuk mengatasi keganasan (kanker) hematologi dan kelainan hematologi lainnya. Di negeri kita, yang populer adalah penyimpanan sel punca oleh swasta. Sebenarnya, akan jauh lebih bermanfaat jika pemerintah mengadakan penyimpanan sel punca untuk masyarakat seperti halnya bank darah. Sel punca tersebut dapat digunakan bagi anak yang mengikuti program penyimpanan dan bagi anak lain yang memerlukan.
Saya setuju dengan dokter Anda, sudah saatnya Anda mempertimbangkan cangkok ginjal. Memang ada harapan di masa depan melalui rekayasa jaringan yang berbasis sel puncaakan terbentuk ginjal yang dapat mengambil alih fungsi ginjalAnda yang tidak berfungsi. Namun, sepanjang pengetahuan saya, penelitian ini baru sampai pada percobaan binatang. Jadi, penerapan pada manusia masih akan lama.
http://wartakota.tribunnews.com/2014/08/31/ini-risiko-terapi-stem-cell


Tidak ada komentar:
Posting Komentar